Monday, September 10, 2012

dekat...


Terkadang semua tak selalu menjadi baik disaat kita berada dalam ekspektasi yang baik.
Apa yang kita anggap biasa bisa menjadi tak biasa untuk orang lain, bahkan mungkin sampai membuat orang lain turut serta dengan hal yang mereka rasa itu tidak biasa.
Aku heran.Di dunia ini kita punya hidup dan urusan masing-masing. Kita takkan bisa selamanya ada dalam bayang-bayang orang lain, karena hidup di luar nanti tentu akan lebih keras dari apa yang kita bayangkan, dan kita harus bisa menghadapi itu.
Disaat kita merasa bahwa kita sedang dalam masalah, tentu sangat ada pengaruh yang datang atas apa yang sedang kita rasakan itu. Sulit untuk terbuka dan juga sulit untuk menutup.
Karena hidup itu adalah sosialita, kita berada diantara kehidupan yang lain yang membatasi kita untuk tidak semau kita.
Dekat.Apa sih artinya dekat?
Apakah dekat itu selalu ada?
Apakah dekat itu selalu merasa?
Apakah dekat itu selalu mengangguk?
Apakah dekat itu selalu mundur?
Apakah dekat itu selalu selalu yang lainnya?
Apakah iya?
Aku juga belum terlalu memahami itu.

Tuesday, August 7, 2012

keadaan ini, tak kuharapkan, kak...


Kini dan hanya ini yang dapat temaniku disini, dua bilah benda tak hidup dan satu tampilan hijau “BLOGIKABIKA”
Tak ada lagi yang dapat kujadikan tempat untuk berbagi selain disini, kini dan hanya ini yang bisa temaniku, meskipun bisu dan hanya terpaku.
Sekarang aku lelah, akhirnya. Hanya ada getar lemah yang tersisa. Seterusnya adalah kata-kata tak juga berwujud sapa. Lelah ini kutahu akan hilang saat nanti aku mendengar renyah sapamu walaupun dalam ruang dan jarak yang menyekat tatap, telah cukup untuk menepikan lelahku.
Setelah lelah menghasut payah hari ini dan sebelumnya, apalagi yang kubutuhkan selain tempat untuk menyandarkan diri, sejenak saja. Kepadamu kah? Aku tak yakin karena kau enggan. Kelu jadinya hingga tak mampu karena ketakutan aku menyapamu. Ada resah dan rasa bersalah disini, maaf untuk semua gelisah yang kau rasakan.
Dan kini, di tempat ini aku sangat merindukan riuh gaduh bersamamu. Namun yang tersisa mungkin hanya rindu yang mengulum waras logika, jauh menghujam. Harapku tak usai terpogoh mengejar sebaris kata darimu, yang masih tersembunyi dibalik wajah, yang kutahu itu pelangi.
TUHAN, temaniku dalam gelisah ini.
Tak pernah ada kata sia-sia untuk sebuah doa. Setitik terang terpendar, di keesokan harinya, kuharap. Kupagut lagi canda dalam rona senyum yang menepikan lelahku.

:)


Kamu telah mengajarkanku bagaimana menari dalam hujan. Dalam hujan itu kutemukan tawa dan tangis mengeja bahagia bersamamu. Satu demi satu.

Monday, August 6, 2012

katanya, nyatanya...

Katanya kita tak harus selalu mengalah, dan aku mencoba.
Saat aku mencoba untuk menjadi egois dengan pendirianku, itu malah membuat aku merasa bersalah dan berlaku yang tak semestinya. Jadi apa yang sebenarnya harus kulakukan pada aku dan hidupku? Apakah aku harus tetap mengalah ataukah berdiri dalam egoku?
Katanya kita tak harus selalu mengalah, dan aku mencoba.
Saat aku mencoba untuk menjadi egois dengan pendirianku, itu malah membuat aku menjadi lain dan dianggap sangat lain. Aku menjadi bukan diriku yang biasanya. Aku membuat semua jadi berpikir lain tentangku, dan aku membuat diriku dalam posisi yang salah dimata yang lain.
Katanya kita tak harus selalu mengalah, dan aku mencoba.
Saat aku mencoba untuk menjadi egois dengan pendirianku, itu malah membuatku lelah dengan segala hal yang menjadi lain, membuatku dianggap membenci keadaan dan hidupku. Tanpa tau apa yang sebenarnya aku alami dan rasakan. Bukan tentang teman atau bahkan sahabat. Lebih dari itu. Dan tak ada yang tau, karena aku terlanjur ada dalam anggapan itu.
Katanya kita tak harus selalu mengalah, dan aku mencoba.
Saat aku mencoba untuk menjadi egois dengan pendirianku, itu malah menimbulkan anggapan negatif akibat semua kata yang terlontar dalam keterbalikan. Dan tak ada yang mengerti.
Aku inginkan semua tetap menjadi baik dalam konteksnya yang begitu sederhana, tanpa harus menjadi rumit. 

tersenyumlah, inginku...



Aku masih ingat saat aku diingatkan untuk dapat selalu tenang dan tak nampak dalam ketidak seimbangan, dalam masalah
Aku masih ingat saat aku diingatkan untuk selalu tersenyum walaupun hati dan perasaanku tidak
Aku masih ingat saat aku diingatkan untuk menjadi lebih sabar dan dewasa saat aku dalam masalah
Aku masih ingat saat aku diingatkan untuk melihat dari semua sisi kehidupan
Aku masih ingat saat aku diingatkan untuk selalu takdim pada siapapun yang aku hadapi
Aku masih ingat saat aku diingatkan bahwa yang mengalah dan meminta maaf terlebih dahulu adalah pemenang
Aku masih ingat saat aku diingatkan bahwa dalam masalah yang kita hadapi masih ada orang lain yang punya masalah yang lebih besar dari masalah yang sedang kita hadapi
Aku masih ingat saat aku diingatkan untuk belajar dari kesalahan yang sudah pernah aku lakukan sebelumnya
Aku masih ingat saat aku dikenalkan tentang perjalanan hidup yang bisa membuat seseorang menjadi dirinya yang sekarang, yang lebih kuat
Aku masih ingat dengan segala hal yang membuatku sangat bersyukur akan hidup yang aku jalani
Aku masih ingat saat aku ditegarkan, saat aku dibuat tersenyum dalam lukaku, saat aku dibuat melihat dikala gelap
Sungguh aku ingat semua itu karena engkau yang mengajariku, disini
Dan sekarang, ini aku yang ingin melihat senyum yang selalu terkembang dalam raut, dan itu sangat bisa, karena aku tak sekuat kau, namun kita saling, kita sama-sama belajar

dan aku menangis...




Tak selamanya, pedih itu berarti sakit. Kadang, tangis yang mengiring adalah bahagia yang tak kita sadari. Paling tidak, kita jadi mengerti apa sesungguhnya sakit ketika kita merasakan air mata mengalir. Inilah kebahagiaan sesungguhnya.

Betapa tidak ada makna hidup ketika kita tak pernah punya air mata. Tawa, mungkin, tak pernah terselami air sajatinya saat mata kita kering dari air mata. Menangis sejadi-jadinya adalah apa yang aku inginkan saat ini, detik ini.

Sunday, July 8, 2012

hologram dalam aksinya...


Dalam kotak ini tergores lagi melalui dua bilah penampung rasa seperti biasa
Ada simpul, ada datar, sampai ada terbalik
Senyum saat semua terasa bulat dalam bulatan
Datar saat bulatan mulai bergeser
Terbalik saat bulatan ada pada trapesium dalam kotak
Ingin rasanya terbuka selaput dari si jelly kenyal milik hologram gulali di atas awan
Tapi seperti ini juga ingin, terus kusimpan dalam tempat yang hanya Tuhan yang tau
Dan memang pilihan kedua lebih baik untuk iringi aksiku dalam kotak hangat yang benar hangat di bawah pohon sakura pada musim semi
Dalam organ penting cerminan senjata para pekerja keras timbul lengkungan berujung titik dibawahnya
Lengkungan yang berisi aksi si hologram gulali di atas awan yang begitu membuatku berkata “ko gitu yah? Emang iya? Emang ada? Emang boleh?”
Harapku hanya sensasi saja darinya