Monday, December 26, 2011

ini ceritaku

Heningku dalam ramainya teriakan riang tak dapat kutampik sampai meluruh symbol rasa gambaran organ tak nampak, tentu, sungguh, sangat bergetar, setiap kali muncul dan hilang sosok yang selalu tertulis dalam secarik kertas pada kotak  di pojok berlatar merah.
Terkadang tegak bahkan sesaat merunduk sampai terpuruk, bangun dan berdiri, lalu kembali terjatuh. Gamang jadinya, tak tentu. Inginku dapatkan simpul merona itu, tergambar, ataupun diantar flamingo goresan cerita dalam kumpulan kertas yang aku rangkai.
Begitu sering aku tatap jarum penunjuk bangun dan tidurnya si bulat terik, ku tunggui bulir berpindah koordinat, begitu menyita, ini tak sampai, itu tak sampai, diam di tengah, harapku ke tepi tuk raih apa yang seharusnya aku raih, sulit, banyak kerikil, besar, kecil, itu bagiannya.
Pabrik produsen rasa kewalahan luncurkan derasnya ungkapan si organ tak nampak, bahkan mungkin sampai panas mesin penghasil, lelah, ingin menyerah.
Duduk, termenung, diam, dan tengadah, naik turun si lorong gelap dasar merah runtutkan antrian alphabet dari organ tak nampak, tenang, habis, terguyur.
Sejenak terlepas saat dapatkan lemparan simpul merona dari kelinci pemakan wortel di sabana tempatku duduk bersama kumpulan cerita dalam kertas yang ku rangkai. Loncat, berguling, riang, hilang sejenak.
Oke, ada hal lain yang menunggu, ya! Masih banyak kertas yang harus aku rangkai dengan tangan tenang penuh simpul yang begitu merona ditemani kelinci pemakan wortel di sabana tempatku duduk, tentu, pasti. Karena aku dengar beritanya itu begitu manis bila kucicip nanti, pasti katanya.
Mengkerut, mengkernyit, tik tok, diam sambil menopang, haha aku dapat akhirnya!
Ah aku putuskan saja untuk buat semuanya seperti saat aku makan jeruk kemarin. Dalam bulatannya ternyata tidak semua yang berpelukan itu manis, ada juga yang kecut. Ih! Haha ya sudahlah ini bagian dari semua. Ini jalanku. Karenanya aku hidup. Ya untuk kulalui semuanya dalam perjalananku menjadi kuat.

Thursday, August 4, 2011

loving you...

Loving you
Is easy because you're beautiful
Is more than just a dream come true
And everything that I do
Is out of loving you
No one else can make me feel
The colors that you bring
Stay with me while we grow old and 
We will live each day in spring time

Because loving you
Has made my life so beautiful
And every day of my life
Is filled with loving you 

Is easy because you're beautiful
And every day of my life
Is out of loving you

Loving you
I see your soul come shining through
And everytime that we are
I'm more in love with you




only hope...

There’s a song that’s inside of my soul.
It’s the one that I’ve tried to write over and over again
I’m awake in the infinite cold.
But you sing to me over and over and over again.
So, I lay my head back down.
And I lift my hands and pray
To be only yours, I pray, to be only yours
I know now you’re my only hope.
Sing to me the song of the stars.
Of your galaxy dancing and laughing and laughing again.
When it feels like my dreams are so far
Sing to me of the plans that you have for me over again.
I give you my destiny.
I’m giving you all of me.
I want your symphony, singing in all that I am
At the top of my lungs, I’m giving it back.
So I lay my head back down (again).
And I lift my hands and pray
To be only yours, I pray, to be only yours
I pray, to be only yours
I know now you’re my only hope.




Sunday, July 24, 2011

dari hati untuk ibu...

Ibu..
Aku anakmu, sungguh begitu rapuh jika tanpa kau kuatkan, aku masih takut terjatuh dan sulit untuk bangkit.
Aku tahu, aku bukan anak kecil lagi yang bisanya cuma merengek minta mainan, minta permen, ingin susu, sampai minta digantikan popok. Aku tahu itu bu..
Kini aku sudah besar, sudah dewasa, sudah tahu apa itu “tidak” dan apa itu “ya”. Dan aku sudah tau apa yang aku mau, dalam hidupku, tentu.
Terkadang aku merenung, mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali aku ditanya tentang keadaanku, tentang semua lamunanku, sampai aku ingat itu terjadi hanya sekali dalam hidupku dikala beranjak dewasa, itupun setelah aku merasakan apa itu gelap, apa itu sendiri, apa itu terjatuh yg benar-benar terjatuh. Aku begitu ingat saat ibu menanyaiku, aku menangis, sangat menangis, semua perih itu aku katakan pada ibu, ibu diam, dan hanya terlontar kalimat “nanti kamu akan tau saat kamu menjadi orang tua, menjadi seorang ibu dari anakmu”.
Aku merasa hilang, rasanya tak berguna apa tuturku saat itu. Sampai ibu berlalu meninggalkan tempatku. Semua menjadi serba salah, setiap tuturku menjadi salah. Dan kembali aku diam, aku pendam semuanya.

Ibu…
Kapankah ibu mengucapkan selamat atas nilaiku yang sempurna?
Kapankah ibu mengucapkan selamat atas prestasi yang kuraih?
Kapankah ibu memelukku disaat aku butuh ibu dalam masa transisi yang aku jalani?
Kapankah ibu tersenyum menyambut aku yang lelah?
Kapankah ibu akan mendengar apa yang aku jeritkan?
Dan kapan ibu akan berhenti membuat aku merasa kecil?

Memang cara untuk menunjukkan kasih sayang itu sungguh bebreda dari setiap ibu, tapi haruskah ibu membandingkan aku dengan orang lain?
Maaf bu, aku bukan orang lain, dan aku tidak akan menjadi orang lain. Aku ya aku, anakmu..
Ibu…
Aku inginkan dukungan darimu, dorongan darimu, walaupun itu hanya dengan senyuman indahmu, aku akan merasa sangat bahagia. Dan tolong hentikan anggapan ibu bahwa dengan membuatku kecil aku akan merasa besar. Maaf bu, bukannya aku membangkang, tapi dengan cara seperti itu aku malah semakin jauh, semakin kecil.
Memang cara untuk menunjukkan kasih sayang itu sungguh bebreda dari setiap ibu, dan tentu cara tanggap dari setiap anak pun berbeda.

Wednesday, July 20, 2011

A Letter From Mom and Dad

Diterjemahkan dari video berjudul A Letter  from Mom and Dad

Anakku,
ketika aku tua,
aku berharap kamu mengerti dan sabar padaku.
Ketika aku memecahkan piring atau menjatuhkan sop dari meja karena penglihatanku berkurang.
Aku berharap kamu tidak berteriak memarahiku.
Orang yang sudah tua sangat sensitive.
Milikilah belas kasih ketika kamu berteriak marah.

Ketika lisanku berkurang dan aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan,
aku berharap kamu tidak berteriak padaku, “Ulangi apa yang kamu katakan atau tuliskan!”
Aku minta “maaf” anakku.
Aku “menua”.

Ketika lututku melemah, aku berharap kamu bersabar membantuku berdiri.
Seperti bagaimana dulu aku melakukannya padamu, ketika kamu kecil belajar bagaimana berjalan.
Mohon tahan terhadapku.

Ketika aku tetap mengulangi perkataanku mengenai ingatan-ingatanku yang salah.
Aku berharap kamu tetap mendengarkanku
Aku mohon jangan menertawaiku atau tidak suka mendengarkanku.

Kamu ingat ketika kamu kecil dan ingin balon?
Kamu begitu bertingkah berlebihan, melakukan apapun, dan menangis,
sampai kamu mendapatkan apa yang kamu mau.
Aku mohon,
Maafkan bauku juga.
Bauku seperti orang yang tua.
Akumohon, jangan memaksaku dengan keras untk mandi.
 Tubuhku lemah.
Orang yang tua mudah sekali sakit ketka mereka kedinginan.
Aku berharap aku tidak mempermalukanmu.
Ingatkah kamu ketika kamu kecil?
Aku mengejar dan menangkapmu ketika kamu tidak mau mandi.

Aku berharap engkau bisa sabar denganku.
Ketika aku mulai mudah ngambek dan ngomel.
Itu semua bagian dari “tua”.
Kamu akan mengerti ketika kamu semakin tua.
Dan jika kamu miliki sisa waktu, aku berharap kita bisa berbincang-bincang walaupun hanya sebentar.
Aku selalu sendiri setiap waktu dan tidak memiliki satupun teman untuk berbincang-bincang.
Aku tahu kamu sibuk bekerja.
Sekalipun kamu tidak tertarik pada ceritaku,
mohon luangkanlah waktu untukku.
Ingatkah kamu ketika masih kecil?
Aku meluangkan waktu untuk mendengarkan ceritamu tentang Teddy bearmu?
Ketika waktu itu datang, aku sakit dan terbaring di tempat tidur.
Aku berharap kamu sabar merawatku.

Aku minta maaf,
jika tiba-tiba buang air di tempat tidur, atau menyusahkanmu.
Aku harap kamu sabar merawatku sampai akhir hidupku.

Aku akan pergi dalam waktu yang tidak lama lagi.
Ketika waktu kematianku datang,
aku berharap kamu memegang tanganku dan memberiku kekuatan untuk menghadapi “mati”.
Dan jangan cemas,
ketika nanti aku bertemu Tuhan, aku akan berbisik pada-Nya.
Untuk memberkati dan merahmatimu.
Karena kamu mencintai ibu dan ayahmu,
Terima kasih banyak telah merawat kami,
Kami mencintaimu dengan banyak cinta,
-Ibu dan Ayah-


Sunday, July 17, 2011

isi dalam secarik kertas yang lalu...


Oke, sedikit bariskan alphabet tentang sosok dalam secarik kertas yang lalu, tentu berkat nyala berwarna hijau dari pemilik cerita.
Buram tentu, tapi tak ada salahnya. Sampai entah harus bersiap tuk meluncur dari station yang mana, garis pembentuk raut sedikit terangkat dengan nada “nyit” itu karena efek tak pernah bersua. Melamun dan hampir terbahak jadinya. Asli butuhkan cukup banyak penunjuk tiktok berputar, sungguh. Jika beraksi begitu saja, tersandung nantinya. Hmm ok just my imagination.
Entah seperti apa dalam bentuk tak nampak, akan ku bariskan saja dalam nyata si pemilik cerita. Menarik dalam sudut  90 derajat ukuran organ nyata dengan si bulat penghias raut yang unik pembuat sirine perintah untuk menoleh. Lakunya terbayang hangat dengan pabrik canda dan sedikit mengkerut sepertinya, terlihat dari senggolan kawan sepermainan.
Bayangan hangat dalam aksi pemilik cerita yang membuat cerita ini muncul, saat bariskan terbersit kerlingan si bulat penghias raut ikut amati setelah ada senggolan sedikit dari penghuni sabana dibawah beringin tua.

Friday, July 15, 2011

adakah simpul merona itu?

Lagi, lagi, lagi, dan lagi. Selalu berputar desakan pembuat gundah, gila mungkin, bisa saja, tentu aku, sungguh. Beranjak, melangkah, didesak, tertegun, sampai hilang, masuk alam bawah, terpuruk, haruskah?
Diam dalam kotak hangat yang kurasa dingin, sendiri, sepi, gelap dalam terang. Terpencil, sungguh, terkadang aku terpuruk, sulit untuk bangun. Bulatan jeli dalam raut terasa berubah, agak berair, tapi ini selalu, jadi sudah biasa, sungguh. Entah sudah berapa banyak antrian semu yang berbaris merasuk dalam helaian lembut dengan aksi kapilaritas, tak hingga jumlahnya, sulit. Diam dalam ruang bagian dari kotak hangat yang kurasa dingin tuk tumpahkan semua pada dua bilah balok dengan operasi sahabat atas nama dasar si legit. Semua, sampai kosong.
Apa aku dalam hidupku tak berhak dapatkan apa yang aku lihat dalam bentuk simpul merona itu?

Walau hanya sejenak?

Bolehkah?
Sungguh Engkau yang selalu mendengar apa yang aku ucap, merona ataukah buram, selalu.
Tapi apa daya lakuku hanya biasa dalam alam yang begitu agung, dan aku begitu kecil, sungguh tak nampak sampai tak ada yang mengerti. Tak ada satupun sosok. Minta peri pun aku rasanya malu, kasihan peri jika sama-sama harus rasa apa yang aku rasa.

Aku hanya minta tolong.

Aku hanya ingin simpul itu kurasa merona walau tak selalu ada.

Cukup sekali, aku puas.