Tuesday, May 15, 2012

dalam keheningan...

Dalam hening aku belajar menghargai warna dan binar dunia
Dalam hening aku belajar untuk tidak merasa sepi
Karena hening tidak harus sunyi
Karena hening bukan berarti sendiri

Saturday, April 21, 2012

popcorn...

Cuek akan menyelamatkanku dari hantu-hantu menyakitkan “air susu dibalas air tuba” bahwa aku pernah menolongnya, pernah berbuat baik padanya, pernah memberinya pinjaman besar tanpa jaminan dan keuntungan apa pun, pernah menyalami tangannya yang karatan, pernah memberinya kaus pengganti baju kumalnya, pernah berusaha mengangkatnya dari ceruk masalah hidup yang menyengsarakannya, dan seabrek rasa pernah-pernah lainnya.
Aku akan terus berusaha untuk menjai diriku sendiri, diriku yang kukenal sendiri selama ini.

Semoga aku kuat dan bisa untuk kebahagiaanku sendiri, bukan untuknya, karena aku datang untuk hidupku, bukan untuk hidupnya. Walau kutahu itu sulit, karena IBA.

(huh, brengseknya aku!)

...

“Aku bukanlah segala sesuatunya yang kau pikirkan. Berhentilah berpikir dan mulailah mendengar. Dengarkan secara seksama dengan segenap tenaga yang masih tersisa dari dirimu….
Dalam keheningan banyak cerita tentang keajaiban. Dalam keheningan kau akan menemukan banyak hal yang tak bisa kau dapatkan dengan mencari…”

#everysilencehasastory

Friday, April 20, 2012

cukup!

CUKUP! AKU MOHON...
AKU UDAH LELAH SAMA SEMUA TUSUKAN YANG KAMU TUJUKAN PADA LUKA YANG KAMU KETAHUI SEJATINYA.
AKU MOHON...
AKU SUDAH TERLALU PINCANG DIBUATMU...

Wednesday, April 18, 2012

kawan...

Selamat! :)
Itu yang terus aku ucapkan untukmu dari sini. Selamat untuk semua yang kau nikmati sekarang. Semua yang menjadi lakuku dahulu dalam mencairkan gurauan kini sedang kau nikmati kawan. Aku bahagia melihatmu yang sekarang, untuk itu aku mundur saja asalkan kau terus terkembang dalam simpulmu. Biar aku dsini saja, cukup melihatmu dari tempatku menjadi lain. Cukup kiranya usahaku membuatmu terkembang seperti sekarang, melepaskanmu dari masa yang selalu kau keluhkan padaku.
Taukah kamu, aku berbohong pada dia tentangmu yang sudah berubah, kubilang kau masih manis seperti dulu, aku berbohong tentangmu yang kini sedang menari bersama kutub lain, aku berbohong tentangmu yang sekarang karena itu tak pantas aku katakan, karena kau sama denganku, perempuan.
Aku merasa kuat, tapi terkadang aku berkata harus sekuat apa lagi aku atas semua yang membuatku menjadi lain, atas semua yang membuatku menjadi asing, harus sekuat apa lagi??
Tapi kata-kata itu sepertinya kalah saat aku melihat dan mendengar kau begitu riang, selalu bersimpul begitu manis. Aku senang atas itu. Walaupun sebenarnya kau telah taburkan garam, cuka, alkohol, dan air jeruk nipis pada lukaku yang sebenarnya kau tahu itu, kawan :)

Thursday, April 12, 2012

aku dalam roda hidupku...


Roda memang berputar, ada saat dimana kita kembali pada keadaan yang pernah kita lalui, tentu dalam poros kehidupan kita. Begitupun aku dan hidupku. Sedang kembali pada masa yang pernah aku lalui, masa dimana aku hanya ingin diam dan menarik diri dari keramaian. Aku tak mengerti dengan keadaan ini, keadaan yang kualami saat ini, pikirku hanya ingin diam dan menarik diri saja.
Dalam sisi lainku, aku menggerutu dan bergumam. Aku tidak seperti ini dan jangan seperti ini. Tapi sisi lainnya lagi menentang dan tetap membuatku menarik diri dan semakin menarik diriku. Semakin sendiri dalam sepi walau dalam ramaiku pada sabana tempat ku bernaung setelah metamorphosa.
Hanya diam dan termenung, rasanya seperti pernah kurasakan, karena memang pernah. Dan ini bukan yang pertama kali. Harapku hanyalah dengan proses yang sama seperti dulu. Dalam masa perubahanku menjadi aku dan diriku dan hidupku yang baru. Lupakan rasa bonsai yang sakit karena kelinci pemakan sawi itu bertambah membawa teman untuk menggerogoti batang penopang. Lupakan gulali manis buatan tetua yang bermerk simpul merona. Lupakan penghuni sabana lain yang pernah siramkan cuka dalam antrian alphabet beraksi nyata. Lupakan semua hal yang membuat jelly kenyal ini memproduksi reruntuhan rasa dari organ tak nampak.
Kini aku seperti anak panah yang sedang melesat mencari papan target dengan terpaan angin kencang, badai mungkin. Hanya perlu topangan saja. Juga penangkal badai. Untuk aku menjadi kuat dan bisa sampai tepat sasaran pada koordinat (0,0), pusat tepatnya.

                                   

Sunday, April 8, 2012

aku dan entah...

Dalam hidup kita, kitalah yang menjalani, tentu dengan pribadi kita, pribadi yang sebenarnya. Dalam kenyataan terkadang semua menjadi semu dalam kepastian, geram jadinya. Di dalam dan diluar berbeda, membuatku ingin membuka topengnya yang melekat dan berkata “Hey!!! Kamu bukan kamu yeng seperti ini, jadilah dirimu sendiri, jangan dibuat-buat, jangan dilebih-lebih. Kamu tuh udah dewasa dan tak pantas seperti ini. Selalu ingin diperhatikan lebih, disanjung, dipuja-puja.” Kalau boleh aku dalam sarkasmeku, ingin aku sentakkan “CUKUP! AKU MUAK melihatnya!” tapi itu terlalu keras pikirku, untung hatiku masih dalam batas wajar yang sungguh wajar.
Aku diam dalam diamku berbatas hidupnya, tak ingin dilihat namun terlihat, dan selalu sepeperti itu. Keselaluan itu membuatku ada dalam gatal istilahnya, entah apa akupun tak mengerti, sedikit aneh memang, tapi inilah keadaannya. Bukannya aku terlalu melintasi pembatas dalam helaan nafas, tapi aku ada di dalamya, dan aku rasa itu, sungguh. Aku sakit dalam lakunya yang bertopeng, sungguh. Seolah menusuk dari belakang dan ingin aku lihat sikapnya, sayang tak membuatku untuk ikuti cara mainnya. Yang terjadi adalah dia yang selalu ingin tau apa urusanku. Tak taukah dia bahwa dalam hidup kita punya batasan satu sama lainnya sedekat apapun kita tentu ada batas walau hanya sehelai benang rentangnya. Aku jadi merasa tak nyaman dibuatnya. Geram kataku.


Disisi lain hanya menunduk lakuku, cukup diam dan kuatkan penopang air langit berkantung yang hendak menjatuhkan reruntuhan. Turun suasana hatiku saat kulihat sosoknya. Entah akupun tak tau. Begitu cepat sekali berubah, mungkin dalam kedipan mata saat tubuhku berbalik arah darinya. Entah harus sekuat apa kusiapkan penopang batang bonsai ini. Butuhkan peri. Ingin datangi peri dan diam tuk sekedar ayunkan kaki di celurit malam, bersama peri. Ingin tenang, damai.