Sunday, May 8, 2011

bungkusan,sedikit semilir, buat merona...


Saat bulir telah kurun bergulir berganti koordinat aku bermain ke sabana itu. Ah aku mau tengok bungkusan yang udah lama ga aku tengok
Aku masuk ke sabana itu, perlahan aku tunggu cahaya terangi sabana itu. Sejenak jongkok, ulur, sentuh, raih, dan lihat
Simpul merona walau isinya hanya semilir
Asik!! Walau cuma semilir tapi itu cukup membuat simpul merona diikuti degup yang berirama buat nada indah seperti gesekan daun kering pembuat tenang,nyaman buat jongkok menyentuh bumi, nikmati semilir demi semilir yang balas siulanku
Aku menyatu bumi beserta sabana juga kelinci pemakan wortel dibawah beringin tua tempat aku tengadah menopang dagu. Sejuk rasanya, tenang ditemani siulan dari tetua pemberi semilir pada bungkusan yang aku tanam demi sebuah simpul merona, merah, terkembang, tentu, sangat.
Semilir itu berisi harapan kembali untuk aku tetap tunggu dibawah beringin tua yang biasa, tetap bersama kelinci pemakan wortel di sabana itu. Sembari menunggu aku tengok langit, peri celurit ayun kaki, aku senang peri. Aku ulurkan alphabet bertema semilir itu pada peri celurit, peri terkembang, merona, simpul yang indah, begitupun aku
Ah sekarang aku menari kecil bersama kelinci pemakan wortel sambil tunggu siulan dengan semilir yang lebih lembut dari tetua atas si legit di awan sana. Oya sudah lama aku tak girang pada si legit, entah, mungkin lelah tengadah, tapi tetap, ga hilang, sampai tenggelam, masih ada, tenang, dan tetap tengadah.
Tetua kini hangat dengan si legit juga inang dan pembentuk keduanya, tadi aku tengok sabana tempatnya tetua sejenak, ternyata ada si legit dengan pribadi nyata temu rindu dan beranjak ingat yang telah lalu, indah, akupun ingin, menjadi satu dari tiga, ah sayangnya hanya buah ilusi dan hayalan yang terlalu meraih ujung tak hingga, ih tapi ga masalah, bebas, ga ada puing atupun benteng untuk menanam buah di nebula manis diwadahi kotak bertuliskan hangat tiga karakter, sungguh seperti pelangi di bawah beringin tempat aku tengadah membumi bersama bungkusan

Wednesday, May 4, 2011

demi simpul yang terkembang...

aku masuk kedalam sebuah kotak yang begitu padat dengan harapan 
aku duduk dan ikuti apa yang aku dapat, semua
hampir setiap bulir penunjuk aku masuk dalam kotak itu
diam, mendengar, tertawa, bersedih, kesal, geram, semua
bulir demi bulir saling berganti koordinat iringi aku dalam kotak itu
sampai entah berapa kurun aku menyatu, satu, dekat, sangat hangat
disatu sisi aku berpikir aku salah, ingat, tapi aku elak, pura-pura
pikirku aku lelah, tapi aku ingin dapatkan simpul, ah jangan menyerah
tengadah pada penguasa dan jangan telungkup, itu saja
terus dan terus berjalan, walau terkadang tak ada perpindahan hanya untuk sesuatu tak tepat
terkadang aku salah atas apa yang kudapat dan jalani dengan kosong, entah, rumit
aku sadar tapi aku tak sadar, gamang
aku tahu tapi tak tahu apa, sungguh
aku ingin tapi aku sulit walau hanya setitik
mencari akan terus mencari sampai temu akhir yang kuharap
walau ingin sandarkan semua karena pikir yang lelah entah apa yang harus kubuat
berubah, sungguh, tapi bagai bulatan dalam sebuah trapesium
datang, pergi, datang, lalu pergi, tak menetap
sesungguhnya apa lakuku agar simpul terkembang merona dengan posisi simetris, sangat, sungguh?
tapi lakuku melekat pada tingkat keledai itu bergurau, terkembang
selalu ingin tapi berakhir murung
ah sulit
tunggu, aku ingat simpul itu!
Ayo jangan cuma menonton orang lain berlari, aku harus ikut
Ya ikut, demi simpul yang terkembang

Monday, April 25, 2011

gamang dalam kotak hangat yang dingin...


Entah ini harus positif atau negative, gamang, ga seimbang.
Aku bebas, ga lepas. Diam, turut, nunduk, sunyi, ingin membuka, keras. Diam lagi dan mengunci diri.
Sekarang, dalam kotak hangat aku kedinginan,bagus memang tapi aku datar. Setiap pasir bergulir ingatkan aku akan bonsai tak berparasit juga peri celurit juga kelinci pemakan wortel di sabana sana, berubah simpul, sedikit, tak lama.
Aneh memang, aku dapat sayap tapi sayap itu tak cukup kuat untuk terbang, sedikit, terbang, jatuh, diam akhirnya merenung beribu tutur berjuta aksi. Ingin berdiri tapi tak cukup kuat tapi aku dikuatkan tapi tidak tapi besar tapi tetap lemah tapi aku coba, selalu.
Aku sedikit terangkat oleh sayap itu tapi dalam hitungan buku jari aku dijatuhkan oleh si pemberi sayap, aneh, mengkerut, berlipat, tapi aku mencoba rasional sedikit, susah tapi harus. Terus dan terus seperti itu, nanggung jadinya ke atas tidak, ke bawah apalagi. Menggantung.
Ga enak memang tapi ini jalan, harus kutempuh walau berat tapi akan menguatkan walau terkadang aku berpikir ini berduri dan menyiksa, tapi mungkin baik, mungkin, berpikir saja mungkin. Dan ah semoga saja bukan sekedar kata mungkin dalam tutur yang datar. Berharap saja terangnya segera datang setelah legam, sungguh bosan menunggu.
Oh ya aku heran kenapa ya setiap keyakinan ada saja sedikit gamang datang meski sekedar menyapa, padahal kan bagusnya ga perlu mampir tampilan seperti itu, aku enggan, kesal, sudah lelah, terabaikan. Bingung aksi apa yang harus aku tampilkan untuk dapat menyempurnakan sayap itu. Dan apakah mungkin sayap itu dapat kukepakkan lebar, tegas, kokoh. Semoga harapku, suatu saat yang tak perlu penantian panjang pergantian koordinat bulir pasir mikroskopis.
Berharap, selalu, pelangi dengan aksi gerak parabola lewati sabana beserta kotak hangat yang kurasa dingin karena sayap lentur menuju penunggu buah merpati dari flamingo yang berubah menjadi pelican beserta tetua sebagai penjajak dan tak lupa si legit yang sekedar tengok turun dari atas awan tinggalkan wahana super dan kerbau pendatang.

Saturday, April 23, 2011

Sabana beserta beringin tua dan bungkusan...


Duduk, menunduk, diam, ada keinginan untuk terpejam melihat bungkusan yang tak kunjung berisi. Tengok flamingo tetap saja flamingo, tak berubah jadi pelikan pengantar buah merpati, tengok lagi tetua masih belum sadar dari hibernasi panjang, dan tengok lagi si legit tetap saja asik dengan wahana super di atas awan sana sambil sesekali bermain bersama kerbau yang datang menghampiri dari pojok bumi. Aku disini cuma bisa duduk, diam, menunggu, dan jadi pengamat yang baik dengan harapan bungkusan yang terisi oleh sesuatu yang aku kejar bersama kelinci pemakan wortel melalui halilintar penembus atmosfir bumi.
Setiap hari aku berkunjung ke sabana itu untuk sekedar melihat bungkusan hampa yang kuharap dapat terisi, tapi tetap saja belum terisi. Padahal entah sudah berapa kali aksi si bulat terik itu berpindah koordinat, aku tunggu tapi tetap saja nihil. Ah aku pulang saja dan berharap besok saat aku kembali ke sabana itu bungkusannya sudah terisi. Dan harapan ya cuma harapan dari aku untuk gulali manis di atas awan sana yang tak mungkin kujemput dengan tangga yang berupa ilusi saja atau berharap cahaya menerawang ke atas sana. Tumpuanku sekarang mungkin cuma bayangan unicorn bersayap kuat yang dapat antar aku ke atas sana untuk sekedar menghampiri gulali di atas awan yang aku pun tak tahu persis dimana koordinat tepatnya gulali itu. Ah hampir melebur, tanpa arah, tanpa peta, tentu tanpa tanda penunjuk arah, atau bahkan yang sejenisnya.
Aku berlari menjajaki legam menuju peri yang sedang asik duduk di celurit malam, aku tumpahkan semua isi alphabet yang sudah mendumel dalam tuturku, peri tersenyum, bersiul, “tak mudah untuk menuju nebula dengan singkat, tentu, butuh waktu untuk mencapainya, tenang, ada siang ada malam, sekarang ini kamu berada dalam legamnya nyatamu, dan pasti akan kau temukan terang setelah legam yang kau tempuh kini”. Aku duduk, mendengar, merenung, berpikir, sambil sesekali tengok sekitar. Masih ada kelinci pemakan wortel dan bonsai tak berparasit yang selalu sempatkan waktu mereka untuk sekedar temani saat aku duduk di bawah pohon beringin tua di sabana itu. Simpulku sedikit terangkat, meskipun aku tetap sedikit terpejam.
Aku kembali melakukan hal yang sama, selalu berkunjung ke sabana itu untuk sekedar duduk di bawah beringin tua sambil melihat isi bungkusan yang selalu kuharap dapat terisi oleh gulali dari tetua sebagai penjajak, selalu, setiap si bulat terik berganti koordinat, tetap, harap, meski butuh periode yang lumayan untuk si bulir bergilir. Berharap benar saja apa kata peri di celurit malam itu.

Tuesday, April 19, 2011

celotehan dari nebula

aku memutuskan untuk bersiul memanggil tetua penjajak gulali itu setelah siulanku pada flamingo tak ditoleh. aku terus bersiul dan bersiul
setelah entah berapa aksi dalam nyata akhirnya tetua itu tengok siulku dengan simpul dan terbuka. aku tak segan melompat, bernyanyi, sampai berguling ria di atas kapas manis yang disebut harum manis oleh sebagian orang.
saat kutahu tetua itu mengangguk, akupun tak pikir panjang, langsung saja kurangkul anggukan tetua itu dengan semangat sambil melompat-lompat seperti kelinci pemakan wortel di sabana sore hari, lompat, lompat, akhirnya dapat!
aku berputar demi dapatkan isi anggukan tetua itu, setelah berbalut keringat, lelah, aku dapat! lalu kubalut isi anggukan itu sampai menjadi buah merpati yang kuharap itu akan semanis permen termanis, selesai, aku pun tersenyum, simpul, simetris, merona :)
selanjutnya ku antarkan buah merpati itu pada halilintar penembus atmosfir bumi agar cepat ditoleh si legit beserta tetua diatas awan, menunggu, isi jam pasir berganti koordinat, akhirnya, halilintar itu berikan siulan yang buatku bersimpul manis sangat simetris, tapi, eh, tapi itu belum akhir, aku baru ingat. yah apa boleh buat simpulku kini melipat berubah datar, menanti, menunggu, kering, bosan, penat, eh tapi aku jangan seperti itu. aku kembali bersiul pada tetua dan flamingo, keduanya menoleh dan membuatku yakin atas apa yang aku siulkan pada mereka, tunggu saja, tutur mereka, menunggu.
aku pun kembali duduk di bawah beringin tua sambil amati kelinci pemakan wortel itu melompat bersama kawan di sabana, yah sesekali aku tengok isi bungkusan dengan rasa harapku, tapi, yah, simpulku kembali melipat berubah datar, belum lagi saat ku tengok ke atas awan, si legit dihampiri kerbau, mereka bermain, tertawa, dan berbaur, aku terdiam, berpikir, bertanya-tanya, sedihkah? atau senangkah? atau datar saja?
pikirku biarlah saja dan berharap itu tak lebih lama dari pergantian jam pasir, semoga, sangat.*ups maaf*
aku segera menunduk agar simpulku tak menjadi lengkung dengan posisi terbalik dan menunggu flamingo beserta tetua antarkan gulali manis itu meski aku tak tahu harus sampai berapa pekan isi jam pasir itu bergilir dari koordinat, tunggu, mungkin aku akan cicipi manisnya gulali dari flamingo dan tetua itu, berharap, sangat, datar, menuggu.

Sunday, March 20, 2011

dunia itu...

hidup adalah hidup
setiap manusia mempunyai gaya hidup yang tentunya berbeda
seperti halnya imajinasi :)
aku dan manusia lain pun tentu berbeda dalam hal imajinasi
aku dengan imajinasiku tak akan bisa terpisahkan sampai kapanpun, aku yakin itu. Karena imajinasiku datang dengan sendirinya bagaikan air yang selalu mengalir dari hulu sungai dan tak pernah tersumbat
orang lain menganggap ini tak lumrah bagi seseorang, namun apa peduliku.
aku nyaman hidup dalam imajinasiku, aku mempunyai dunia yang membuatku lebih merasa tenang dan aman
dunia itulah yang dianggap gila oleh sebagian orang yang mengaggap dirinya lebih *asyik*
orang lain selalu mencibirku saat aku berkata : "aku nyaman disini, di duniaku"
tak sedikit cibiran itu ditujukan kepadaku, namun tak sedikitpun aku gubris.
aku merasa diriku lebih kuat, lebih tegar berkat imajinasi yang tercipta itu
sungguh aku merasa lebih berada dalam dunia itu, banyak kawan yang mendengar semua rintih dan jeritku, senyum dan tawaku, galau dan gundahku
maaf bukan berarti dunia nyata kulupakan, namun dunia itulah yang selalu menghampiriku disaat sunyi dan senyapnya kenyataan
sungguh dunia nyata pun begitu berarti dalam diriku dengan berbagai karakter teman yang kumiliki
namun tak kupungkiri pula bahwa dunia itu yang lebih dominan dalam hidupku
apapun yang mereka katakan padaku tentang dunia ini, aku hanya akan tersenyum dan berkata : "aku bukan kamu, begitu juga dengan duniaku"
apapun yang kulakukan di dunia itu selalu berujung pada suatu hal yang menguatkan aku dari nyatanya hidup
dan hidup adalah hidup, duniaku ya cukup duniaku, dan hanya untukku, karena hanya aku yang dapat mengerti dunia itu
#senyumsemangat

sempet ngerasa sedih karena sering dibullly
lelah jadinya malu karena dicibir mulu
bukannya ku tak mendengar kata-kata yang kasar
bukannya ku tak perduli semua caci dan maki
senyumanku tak akan pernah luntur lagi singing all day long
semangatku tak akan pernah patah lagi dancing all night long
ga ada lagi keki ada kamu dihati
hidup cuma sekali marilah kita happy
awalnya ku tak menyangka dapatkan senyum darimu
akhirnya ku bahagia menari kita bersama
senyumanku tak akan pernah luntur lagi singing all day long
semangatku tak akan pernah patah lagi dancing all night long
ga peduli ku di bully omongan lo gue beli
cacian lo gue cuci dengan senyuman prestasi
tak pernah kumalu karena cibiranmu kujadikan momtivasi untuk maju
no more mellow say no to galau
no more tears say no to fears
cause you blast me up

Friday, March 11, 2011

inikah...

rasanya macem-macem!
ini adalah pertama kalinya aku ngerasain hal kaya gini. suka sama suatu hal *seseorang
ya seneng lah, ya sedih lah, ya mumet lah, ya galau lah ya segalanya deh
hal apapun aku lakuin demi *seseorang sampe dicibir ini lah itu lah. Ya tapi gapapa deh itu kan hak aku. Aku ga bikin oranglain rugi kok.
hal sekecil apapun aku ikutin asalkan itu tentang *seseorang
terkadang aku sampai di titik lelah namun aku kembali terbangun dan ingat bahwa akan ada unforgettable moment yang bakal aku dapet ya meskipun entah kapan waktu itu datang #berharapbanyak
kebiasaan aku pun makin parah (ngomong sendiri) karena ada bahan curhat baru yaitu tentang *seseorang imajinasi itu begitu nampak jelas dalam anganku yang dianggap tak wajar oleh orang lain. Tapi aku ga perduli ah apa kata mereka. Inilah aku. Aku nyaman sama pribadi aku yang kaya gini. Dan itu fair aja kan selama ga bikin orang lain rugi. Semua jadi bahan dialog antara 'aku' dan 'aku' disaat aku merasa sendiri ditengah keramaian. Entah kenapa aku merasa nyaman disaat dialog 'aku' dan 'aku' berlangsung begitu hangat. Rasanya hilang sudah beban yang aku rasa saat itu.
hmmm sampai menangis pun aku alami saat sedang bersama 'aku'. Mungkin kalian anggap ini gila. Tapi inilah imajinasiku yang tercipta disaat ada *seseorang yang membuatku seperti ini #thefirsttime
disaat rasa impian itu datang. Wokwooow! pokonya feels like ZOMBIELAND deh. Bayangan-bayangan itu muncul dan terus berdatangan memenuhi imajinasiku.
inikah yang disebut menjadi seorang pengagum?
inikah rasanya mengagumi suatu hal *seseorang?
oh inikah rasanya??
sepertinya ya.
menjadi seorang pengagum tuh ternyata menyita banyak rasa ya. Tapi aku ga terpaksa atas kekaguman ini. Aku cukup menikmati pengalaman pertamaku mengagumi suatu hal *seseorang
dimana aku jadi orang yang senyum-senyum sendiri kalau ada hal yang menyangkut *seseorang. Dimana aku jadi orang yang paling semangat kalau menyangkut *seseorang. Dimana aku paling gesit kalau ada hal baru yang menyangkut *seseorang pokonya banyak deh rasanya!

jadi pengagum itu akan menjadi puncak saat *seseorang yang kita kagumi tahu kalau ada kita yang mengagumi dia, apalagi kalau dia BIG RESPECT sama kita. Wah pasti kita dapet tuh klimaks kekaguman kita. Dan aku lagi nunggu moment itu datang menghampiri.
semoga saja tak hanya menjadi harapan semu yang hampa untuk aku harapkan. amin. amin. amin Ya Allah !
SEMANGKA!!
tebarkan SENYUM SEMANGAT :)
semoga aku sampai pada saat itu. Saat dimana *seseorang melihat ada aku disini yang selalu menjadi pengagum untuknya.
**********************
saat kujumpa dirinya disuatu suasana terasa getaran dalam dada
kucoba mendekatinya kutatap dirinya oh dia sungguh mempesona
ingin aku menyapanya menyapa dirinya bercanda tawa dengan dirinya
namun apa yang kurasa aku tak kuasa aku tak tahu harus berkata apa
inikah namanya cinta oh inikah cinta
cinta pada jumpa pertama
inikah rasanya cinta oh inikah cinta terasa bahagia saat jumpa dengan dirinya

kujumpa dia berikutnya suasana berbeda getaran itu masih ada
aku dekati dirinya kutatap wajahnya oh dia tetap mempesona
ingin aku menyapanya menyapa dirinya bercanda tawa dengan dirinya
namun apa yang kurasa aku tak kuasa aku tak tahu harus berkata apa
inikah namanya cinta oh inikah cinta
cinta pada jumpa pertama
inikah rasanya cinta oh inkah cinta terasa bahagia saat jumpa dengan dirinya

rindu terasa dikala diri ini ingin jumpa
ingin selalu bersama
bersama dalam segala suasana

inikah namanya cinta oh inikah cinta
cinta pada jumpa pertama
inikah rasanya cinta oh inikah cinta terasa bahagia saat jumpa dengan dirinya

inikah oh inikah????